8.12.06

banyak tentang

adillah sejak dari pikiran
-pramoedya ananta toer-



dapat quote ini, dari bapak ini. dalam suatu kesempatan ngobrol bersama via email. katanya didapat dari tetralogi Pulau Buru yang terdiri atas : Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca [ditulis secara berurutan dari buku pertama hingga ke empat]. katanya *lagi* begitu banyak quote bagus di buku-buku ini. salah satunya yah quote di atas ntuhw, yang katanya *lagi, lagi* hasil perkataan dari seorang tokoh rekaan Pak Pram dalam buku-bukunya itu yang bernama Jean Marais. okeyh, i'm not going to talk bout the books eniwei *wink*

"adillah sejak dari pikiran"

betapa susahnya itu. kita semua tau, hal tersulit untuk dilakukan adalah saat kita diminta untuk bertindak dan berlaku adil. yap, mengaplikasikan yang mana daripada suatu keadilan. saya tau, adil bukan berarti saya dapat lima puluh persen, dan orang lain pun mendapatkan lima puluh persen yang sama dengan yang saya dapatkan. adil bisa saja tujuh puluh persen untuk saya, dua puluh persen untuk kamu, sepuluh persen untuk kamu yang lainnya. apalagi klo sudah diiming-imingi dengan jabatan dan kedudukan. apalagi klo sudah ditambah-tambah dengan lamanya waktu terhadap objek keadilan tersebut. apalagi klo dilanjutkan dengan banyaknya tanggungan (red : anak) dari istri pertama (lho?) skip it. yang jelas, pastinya bakalan lebih banyak lagi pertimbangan untuk menentukan adil tidaknya suatu objek.

memformat keadilan dalam pikiran kita. tentu saja itu bukan hal yang main-main. belum saja mulai menginstallnya dalam pikiran, kita pasti sudah memikirkan baik buruknya. selayaknya kita, makhluk ciptaan yang diberikan 'anugerah' berupa cipta, rasa dan karsa, maka kecenderungan kita memutuskan sesuatu sudah pasti melalui proses pertimbangan ini itu, anu inu, begini begitu begono, yadda yadda, bla bla bla, endeskey, endeskoy, ecetera. dilanjutkan dengan pengukuran kadar kesukaan dan ketidaksukaan kita terhadap sesuatu itu. ada yang salah dengan itu semua? tentu saja tidak ada yang salah, dalih manusiawi adalah konspirasi konvensional terbesar yang paling disepakati seluruh manusia tanpa ba-bi-bu-be-bo!!

klo saya membuat kesimpulan seperti ini, kira-kira bagaimana yah? :

terimalah kenyataan bahwa kita, manusia, sebenarnya hanya memiliki kecenderungan untuk bersikap, bertindak dan berlaku adil. kita tidak pernah benar-benar bisa seratus persen adil. tidak pada diri kita, maupun diri orang lain. adil itu sudah mutlak milikNya, lengkap dengan ketidakadilannya. tapi kita memiliki kemutlakan yang sama dengan Dia, saat kita memilih untuk merasa memperlakukan atau diperlakukan secara adil.



hmm.. ya sudahlah dan ya entahlah. seperti kata salah satu teman saya di jaringan intranet kantor : "walahh.. lha wong hidup itu memang gitu kok... semuanya paradoks"

jadi ingad 'temuan' saya dalam renungan situs intranet kantor dua tahun yang lalu..


kita berbicara terlalu banyak, sedikit cinta dan terlalu saling membenci
kita telah belajar bagaimana caranya hidup, tapi tidak hidup
kita telah melewati umur untuk hidup, bukannya hidup melewati umur
kita telah melakukan sesuatu yang besar, tapi tidak yang lebih baik
kita telah membersihkan udara, tapi tetap membuat polusi pada jiwa
kita telah memisahkan atom, tapi tidak memisahkan prasangka
kita menulis lebih banyak, tapi belajar lebih sedikit
kita banyak merencanakan, tapi sedikit menyelesaikan
kita telah belajar dari kesibukan, tapi tidak belajar untuk menunggu
kita teralu sulit bersikap adil, berpikir keras untuk memecahkan satu hal, tapi melupakan hal yang lain..

0 komentar:

 

loveblue © 2008. Chaotic Soul :: Converted by Randomness